KELUARGA

Bandar Udara Raden Inten II

TIM FUTSAL GEOGRAFI 2012 (GAY FC)

Juara 1 liga Geografi tahun 2012

PERJALANAN MENUJU G.RAJABASA

PECINTA ALAM ANGANSAKA

Tampilkan postingan dengan label KARTOGRAFI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KARTOGRAFI. Tampilkan semua postingan

Rabu, 18 Juni 2014

LAPORAN PRAKTIKUM PANTOGRAF

PRAKTIKUM 7
PANTOGRAF

I.                   Tujuan

Tujuan dilaksanakannya praktikum ke 7 tentang pantograf adalah sebagai berikut
a.       Mahasiswa dapat mengetahui manfaat pantograf
b.      Mahasiswa dapat menggunakan pantograf secara sederhana dalam memperbesar dan memperkecil gambar peta

II.                Alat dan Bahan

a.       Alat tulis menulis
b.      Kertas gambar dan kalkir
c.       Peta

III.             Prosedur Kerja

a.       Menyiapkan alat tulis
b.      Menyiapkan peta yang akan digunakan sebagai perbandingan pengubah peta
c.       Menyiapkan alat pantograf
d.      Meletakakan peta disebelah kanan dan kertas kalkir di sebelah kiri untuk memperkecil ukuran peta dan sebaliknya untuk memperbesar ukuran peta








IV.        Kajian Teori

Ada beberapa cara untuk memperbesar dan memperkecil peta, yaitu dengan menggunakan grid dan menggunakan pantograph dalam praktikum ini saya akan membahas memperkecil dan memberbesar peta mengunakan pantograph.
a.      Memperbesar dan memperkecil skala peta dengan menggunakan pantograph
Pantograf adalah alat untuk memperbesar dan memperkeil skala peta.
Pantograf dapat mengubah ukuran peta sesuai dengan ukuran yang diinginkan. Pada dasarnya, kerja pantograf berdasarkan jajaran genjang. Tiga dari empat sisi jajaran genjang (a, b dan c) mempunyai skala faktor yang sama.
Skala pada ketiga sisi tersebut dapat diubah-ubah sesuai kebutuhan, yaitu memperbesar atau memperkecil peta. Pada alat ini juga digunakan formulasi yaitu:
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjL8P7_fm4oSR91mP9GWE1C8TauL87Wx-q7jD-9fseG8x4JAmcy5-XXcu_8WCQmWM1FOL4tZVfsNKNe_vKAm2iCSH_zoQK0JfOxCUhEHI7BnsQ6sx38QknBKviZjXwZyaDfPu78gLb81IM5/s400/Formulasi.PNG
Setelah didapat besarnya skala faktor, kemudian pantograf diatur sehingga masing-masing lengan pantograf memiliki skala faktor sama dengan 20. Selanjutnya peta yang akan diperbesar letakkan di tempat B dan kertas gambar kosong letakkan di tempat gambar A yang sudah dilengkapi pensil. Kemudian gerakkan B mengikuti peta asal, melalui kaca pengamat atau dijiplak.



Cara kerja Pantograf
1.      Setiap lengan atau sisi dapat bergerak bebas dan bagaimanapun geraknya keempat lengan ini selalu membentuk jajaran genjang, dengan hanya satu titik sudut yang selalu tetap, yaitu dititik P (pool atau bandul pemberat).
2.      Mata penggambar peta selalu mengamati kaca atau jarum pengamat dengan teliti, jarum pengamat digerakkan sesuai dengan kenampakkan yang ada pada peta. Bersamaan dengan itu mata penggambar berupa pensil pada kertas gambar ikut pula bergerak dan dalam geraknya sekaligus membuat gambar yang sama persis dengan peta hanya skalanya yang berbeda.
3.      Pada gambar diatas, gerak mata penggambar lebih bebas daripada gerak jarum pengamat, karena itu gambar yang dibuat oleh mata penggambar lebih besar daripada gambar peta yang ada. Untuk memperkecil skala peta, maka peta harus diletakkan pada sisi luar dan kertas gambar diletakkan pada sisi dalam, letak mata penggambar dan jarum pengamat juga ditukar tempatkan.
4.      Untuk memperolah angka pembesaran atau pengecilan sesuai dengan skala yang diinginkan pada pantograph tertentu menggunakan rumus. Tetapi ada juga jenis pantograph yang memiliki tabel pembesaran dan pengecilan skala (Hope Pantograph). Kemudian lengan – lengan pantograph disesuikan atau disetel skalanya, berapa hasil perhitungan atau sesuai dengan angka yang tercantum pada tabel.
5.      Menghitung angka penyetelan pantograph pada pantograph jenis M 500 (pantograph ukuran besar disebut hanging pantograph) adalah sebagai berikut :
a. Jenis Pantograf dengan pool (bandul / pemberat ) dipinggir
Rumus A = m / M X 500, dimana A = angka penyetelan pantograf M = skala dengan angka yang kecil. Contoh : sebuah peta dengan skala 1 : 125.000 akan diperbesar menjadi skala 1 : 50.000, bila menggunakan rumus di atas maka angka penyetelannya menjadi 200, yaitu dari (A = 50.000 / 125.000 X 500 = 200).
b. Jenis Pantograf dengan pool di tengah
Pada pantograf seperti ini pool diletakkan pada T2 yaitu pada tempat Kp atau Tp, sedangkan Tp diletakkan pada tempat pool. Rumus yang digunakan adalah A = M / (M+ m) X 500, sehingga untuk contoh soal diatas (A) maka angka penyetelan pantograf  menjadi 357, ( A = 125.000 + 50.000) X 500) atau sama dengan 357.


























V.           Hasil dan Pembahasan
Hasil






























Pembahasan

Dengan melihat gambar yang telah diperoleh dalam hasil praktikum ini kita dapat menganalisis bahwa ada beberapa cara dalam nengubah ukuran peta salah satunya dengan menggunakan alat pantograph, alat ini berfungsi sebagai pengubah ukuran peta secara manual. Hasil yang diperoleh dari pantograph sendiri merupakan hgambar yang memiliki ukuran yang diperbesar namun dengan gambar yang sama.
Adapun kelemahan dalam pantohrap yaitu ukuran perbesaran peta hanya terbatas seukuran alat itu sendiri yang menyebabkan ukuran gambar tidak dapat sesuai keinginan kita ataupun terbatas.

Setelah melakukan praktikum ke 7 ini dapat diketahui bahwa cara dalam mengubah ukuran dan sekala pada  peta adalah dengan dua cara yaitu, dengan cara manual (menggunakan grid) dan menggunakan pantograph. Dari kedua metode itu, hasil yang diperoleh relatif sama, namun apabila menggunakan pantograph hasil yang diperoleh lebih baik daripada denan menggunakan grid. Metode Grid merupakan metode sederhana yang digunakan untuk memperbesar dan memperkecil peta. Untuk perbesaran peta pada saat praktikum, menggunakan perbandingan 2 kali perbesaran menjadi 7,4 cm atau dalam artiannya membuat peta dengan skala 1:12500, dari skala asli atau skala yang sebenarnya adalah 1:25.000. Begitupun apabila ingin diperbesar 3 kali atau 4 kali maka perbandingan skala peta dibagi 3 atau 4, sehingganya ukuran dari grid atau kotak-kotak akan lebih besar dari ukuran semulanya. Dalam memperkecil peta, ukuran grid lebih kecil daripada ukuran pada peta-peta yang telah digambar sebelumnya, yakni ukurannya menjadi lebih kecil yaitu. Perkecilan ini menggunakan perbandingan 2 kali perkecilan dari perbandingan peta, sehingga 1:25.000 x 2 sehingga menjadi 1:50.000 dan jumlah kotak yang dibuat menjadi lebih kecil dari ukuran sebenarnya.
Apabila ingin memperbesar atau memperkecil peta menggunakan pantograf harus mengetahui teerlebihh dahulu cara penggunaan pantograf. Jika ingin menggunakan pantograf untuk memperbesar peta 2 kali perbesaran, maka kaki pantograf harus disetel pada posisi ½ dan posisi pensil pantograf di sebelah kanan, jarum di tengah dan pemberat di sebelah kiri. Jika ingin memperkecil peta 2 kali semula, maka kaki pantograf harus disetel pada posisi ½ dengan posisi pemberat di sebelah kiri, pensil di tengah, dan jarum di sebelah kiri.

VI.        Kesimpulan

Kesimpulan
Berdasarkan hasil praktikum, diperoleh beberapa kesimpulan sebagai berikut:
a.        Memperbesar dan memperkecil peta merupakan suatu proses dalam mengubah ukuran suatu peta baik dari ukuran besar diubah menjadi kecil atau sebaliknya, dari kondisi aslinya dengan perbandingan tertentu.
b.        Dalam memperbesar atau memperkecil peta dapat dilakukan dengan berbagai cara, diantaranya cara yang sederhana dalam proses tersebut yakni dengan menggunakan metode grid atau kotak-kotak dan menggunakan pantograf.
c.         Memperbesar dan memperkecil peta dengan menggunakan pantograf lebih mudah dilakukan dan memperoleh hasil yang lebuh baik daripada menggunakan grid.

Daftar Pustaka






















PRAKTIKUM 7 MENGUNAKAN ALAT PANTOGRAF DALAM MEMPERBESAR DAN MEMPERKECIL PETA


Oleh


Dimas Ferdinan
1213034022










PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GEOGRAFI
JURUSAN PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS LAMPUNG
2014

laporan praktikum GPS



PRAKTIKUM GPS

Tujuan

Tujuan diadakannya praktikum ini adalah

a.       Mahasiswa dapat mengetahui bagian-bagian dan fungsi GPS
b.      Mahasiswa dapat menggunakan GPS secara sederhana dalam menentukan posisi di lapangan.
c.       Mahasiswa mampu mem-plot hasil pembacaan GPS ke dalam peta google map
Alat dan Bahan

a.       Alat tulis menulis
b.      Kertas gambar
c.       GPS
d.       
Prosedur Kerja

a.       Menyiapkan alat tulis untuk mencatat koordinat yang akan di cari.
b.      Dengan menggunakan GPS, catat koordinat posisi untuk beberapa objek di lapangan


IV.        Kajian Teori

Adalah bagian dari sistem radio navigasi berbasis satelit yang secara terus-menerus mentransmisikan informasi dalam bentuk kode, sehingga memungkinkan kita untuk mengidentifikasikan lokasi / posisi, ketinggian, kecepatan dan waktu dengan mengukur jarak kita dengan satelit.
Global positioning system merupakan metode penentuan posisi ekstra-teristris yang menggunakan satelit GPS sebagai target pengukuran. Metode ini dinamakan penentuan posisi secara global karena koordinat yang dihasilkan bersifat geosentrik, artinya pusat massa bumi dianggap sebagai pusat sistem koordinat sehingga sistem koordinat ini berlaku untuk seluruh dunia. Sebagai bidang referensi (bidang datum) koordinat digunakan elipsoid World Geodetic System 1984 (WGS 1984).
Ada dua jenis alat penerima sinyal GPS yaitu navigasi dan jenid goedetik. Alat penerima jenis navigasi merupakan alat yang mempunyai bentuk sederhana, kecil, dan praktis dibawa kemana-mana karena tidak dilengkapi alat perlengkapan lainnya (seperti statip atau kaki tiga dan antena luar) sehingga, tidak memerlukan bantuan orang lain untuk membawanya.karena itu, alat ini sangat sesuai untuk digunakan sebagai alat petunjuk navigasi. Berbeda dengan jenis navigasi, jenis geodetik merupakan alat penerima sinyal satelit GPS yang mempunyai bentuk dan ukuran lebih besar dari jenis navigasi, serta dilengkapi dengna kaki tiga  (statip) untuk menempatkan antena tepat diatas titik yang akan diukur/ditentukan posisinya. Dengan demikian, untuk membawa seluruh perlengkapan kelapangan diperlukan dua atau tiga orang personal.
Prinsip penentuan posisis degan GPS ini merupakan metode pengikatan keblakang. Pada metode pengikatan kebelakang yang asli, data yang diukur adalah sudut-sudut di titik yang dicari koordinatnya desatelit-satelit yang sedang diamati (paling sedikit diperlukan empat satelit untuk setiap satu titik ukur0. Berhubung posisi/ koordinatnya sudah diketahui setiap saat, maka satelit-satelit tersebut bervungsi sebagai titik ikat. Posisi yagn diukut/ditentukan oleh metode GPS ini adalah dalam bentuk koordinat siku-siku tiga dimensi atau dapat pula dlam bentuk koordinat geodetis (lintang, bujur) yang semuanya ditentukan terhadap elipsoid geosentrik World Geodetic System 1984 (WGS-1984).

Fungsi
1.      Menghitung jarak dan arah dari lokasi tempat kita berada.
2.      Satu unit GPS dapat menyimpan dalam memory lokasi di mana kita berada saat ini.
3.      Setiap lokasi dapat diberi nama atau nomor dan tanggal dan waktu.
4.      Mengingat lokasi yang pernah kita simpan.
5.      Mengarahkan kita dari satu lokasi ke lokasi lain dengan simbol berupa grafik.
6.      Menyimpan rute perjalanan kita dan mengantar kita kembali dengan rute yang sama.
7.      Berfungsi sebagai kompas yang dapat menuntun kita ke arah yang tepat.
8.      Dapat digunakan sebagai penunjuk arah di kapal, mobil dengan menggunakan daya sebesar 12 volt.
9.      Beberapa GPS dapat menunjukkan peta jalan-jalan utama, sungai-sungai.
10.  Beberapa GPS juga dapat menampilkan kekuatan baterai, posisi satelit, kekuatan sinyal.

Cara kerja

Satelit GPS pertama diluncurkan tahun 1978 dan konstelasi 24 satelit berhasil dilengkapi tahun 1994. Setelah itu satelit-satelit baru rutin diluncurkan untuk meng-upgrade satelit lama atau mengganti satelit yang rusak/tidak berfungsi lagi. Tiap satelit mentransmisikan data navigasi dalam sinyal CDMA (Code Division Multiple Access)-sama seperti jenis sinyal untuk telepon seluler CDMA. Sinyal CDMA menggunakan kode pada transmisinya sehingga penerima GPS tetap bisa mengenali sinyal navigasi GPS walaupun ada gangguan pada frekuensi yang sama. Frekuensi yang digunakan adalah L1 (1575,42 MHz) dan L2 (1227,6 MHz).
Kode CDMA disebut "pseudorandom" karena seakan-akan ("pseudo") tidak beraturan ("random"), padahal tidaklah demikian. Kode CDMA tiap satelit dipilih dengan saksama agar tidak mengganggu transmisi satelit lainnya. Jenis kode CDMA ini ada dua, yaitu C/A dan P(Y). Kedua kode ini ditransmisikan pada frekuensi L1, sementara di L2 hanya ada kode P(Y).
C/A (Coarse/Acquisition) penggunaannya terbuka untuk siapa saja. "Coarse" karena resolusi datanya lebih kasar/tidak sepresisi kode P(Y). Ini disebabkan modulasi kode yang lebih lambat, yaitu 1,023 MHz dibandingkan dengan P(Y) yang 10,23 MHz (bandingkan dengan cdma2000 yang 1,2288 MHz dan WCDMA (generasi penerus GSM) yang 3,84 MHz). Kata "Acquisition" adalah untuk akuisisi karena kode C/A yang sederhana lebih mudah dikenali dibandingkan dengan kode P(Y) sehingga untuk menangkap sinyal kode P(Y) lebih mudah setelah berhasil mengakuisisi satelit GPS dari sinyal C/A-nya. P(Y) berarti kode precision (presisi) yang dienkripsi dengan kode sandi Y. Modulasi kode yang sepuluh kali lebih cepat dibandingkan dengan kode C/A menyebabkan secara teoritis mampu memberikan presisi 10 kali lebih baik juga. Enkripsi digunakan agar data navigasinya tidak bisa digunakan orang tanpa seizin Departemen Pertahanan AS. Dengan mensinkronisasikan kode ini, alat penerima GPS dapat menghitung berapa waktu antara sinyal dikirim dari satelit dan diterima oleh alat penerima GPS. Data lain yang diperlukan juga ditumpangkan pada sinyal kode GPS, antara lain: koreksi posisi satelit, koreksi waktu satelit, dan informasi mengenai atmosfer yang dilalui sinyal dari satelit ke alat penerima.
Satelit-satelit ini dikontrol dari 5 stasiun Bumi, 4 stasiun Bumi yang bekerja otomatis dan satu stasiun Bumi pengontrol utama. Empat stasiun Bumi otomatis hanya berfungsi menerima data dari satelit GPS dan meneruskan informasi itu ke stasiun pengontrol utama. Stasiun pengontrol utama memberikan koreksi data navigasi ke satelit-satelit GPS.
Bagian akhir dari sistem GPS ini adalah alat penerima GPS yang akhirnya menghitung semua data, melakukan korelasi, dan menampilkan data posisi di layar display atau-kalau penerima GPS ini hanya aksesori tambahan di PDA (personal digital assistant) di layar PDA.
Informasi yang ditransmisikan dari satelit ke penerima GPS terdiri dari dua jenis. Yang pertama disebut "almanak", yaitu posisi dari semua satelit GPS. Jenis informasi kedua disebut "efemeris", yaitu koreksi data almanak. ’Almanak’ di-update kira-kira seminggu sekali, data ’eferemis’ biasanya di-update tiap setengah jam. Alat penerima GPS yang dinyalakan kembali setelah seharian dimatikan masih bisa menggunakan data almanak sebelumnya.
Untuk mengetahui posisi alat penerima, juga diperlukan informasi seberapa jauh alat penerima GPS dari satelit. Informasi ini didapat dari mensinkronisasikan timer di penerima dengan sinyal kode CDMA yang dikirim satelit GPS. Beda sinkronisasi dan fase sinyal digunakan untuk menghitung "pseudorange" (perhitungan jarak ke satelit GPS tanpa memperhitungkan perlambatan sinyal di atmosfer). Kecepatan sinyal di ruang hampa sama dengan kecepatan cahaya, yaitu 3 x 10-8 meter per detik. Sementara kode C/A yang 1,023 MHz artinya mengirimkan 1.023.000 pulsa setiap detiknya, atau setiap pulsa bila disinkronisasikan bisa memberikan jarak sampai akurasi 300 meter.
Kita juga bisa menghitung fase sinyal, sinyal itu sedang di posisi mana dari pulsa, sampai akurasi 1 persen. Jadi, akurasi terbaik yang bisa didapat dengan kode C/A kira-kira 3 meter. Untuk kode P(Y) yang mengirim pulsa 10 kali lebih banyak per detiknya, akurasinya bisa sampai 0,3 meter. Ini adalah angka teoretis, pada kenyataannya akurasi GPS kira-kira 9 meter untuk kode C/A.
Bayangkan ada satu bola dengan jari-jari sepanjang jarak satelit penerima GPS yang pusatnya di posisi satelit di ruang angkasa. Jika ada empat bola seperti itu, perpotongan permukaan bolanya adalah satu titik tempat lokasi alat penerima GPS.

Aplikasi
Aplikasi GPS sangat beragam dan tidak terbatas pada hal-hal yang berhubungan dengan penentuan posisi saja. Di udara, GPS digunakan sebagai salah satu alternatif peralatan navigasi pesawat terbang. Dibandingkan dengan peralatan navigasi lain, penerima GPS paling mudah digunakan karena langsung memberikan posisi pesawat sehingga sangat cepat menjadi populer. Dengan menggunakan beberapa penerima GPS, orientasi kemiringan pesawat juga bisa dihitung, GPS juga favorit digunakan untuk membimbing pesawat tanpa awak dan rudal-rudal jarak jauh.
Di laut, kapal-kapal juga senang menggunakan GPS karena alasan kemudahan penggunaannya. IMO (International Maritime Organization) bahkan menganjurkan pemakaian AIS (Automatic Identification System), yaitu alat penerima GPS yang secara periodik mengirimkan posisi kapal. GPS juga digunakan untuk mempelajari kebiasaan migrasi satwa laut.
Penerima GPS yang tersedia dalam berbagai bentuk dan ukuran membuat penggunaannya di darat juga beragam. Mulai dari penerima GPS handheld untuk perjalanan lintas alam seharga sekitar Rp 1 juta sampai penerima GPS untuk memantau perjalanan truk-truk kontainer dan kereta api. GPS juga digunakan membuat peta dan membantu bermain golf. Jam satelit GPS yang sangat presisi juga banyak dimanfaatkan, di antaranya sinkronisasi antar BTS/menara pada jaringan telepon seluler.
Beberapa tahun belakangan GPS bahkan dimanfaatkan juga di angkasa luar untuk mendapatkan posisi satelit lainnya. Akan tetapi, aplikasi yang paling kreatif menurut penulis adalah menggunakan GPS sebagai radar. Sinyal GPS yang memantul dari suatu obyek digunakan untuk menghitung posisi obyek tersebut. Radar GPS lebih murah dari radar biasa karena tidak perlu tenaga listrik besar untuk transmisi sinyal radar dan untuk keperluan militer punya keuntungan tidak bisa diketahui posisinya dari transmisi sinyal radar-karena radar GPS tidak mentramisikan sinyal sendiri.












Hasil dan Pembahasan

a.             Hasil

No

Nama lokasi

Koordinat Geografis

Koordinat UTM
1
Pertigaan kedokteran
Lintang 05012’02”
Bujur 10504’4”
X 5.27.310
Y 91.06.832
2
Pertigaan fkip
Lintang 05022’00.4”
Bujur 10504’44”
X 5.17.144
Y 91.06.786
3
Bundaran unila
Lintang 05011’56.2”
Bujur 10504’39.1”
X 5.27.053
Y 91.06.854
4
Parkiran fkip
Lintang 05021’56.3”
Bujur 10504’40.9”
X 5.17. 119
Y 94.06.906
5
Mushola fkip
Lintang 05021’57.5”
Bujur 105014’43.4”
X 5.27.115
Y 94.06.906
6
Gedung pasca sarjana
Lintang 05021’55.5”
Bujur 105014’46.9”
X 5.27.255
Y 94.06.888

b.             Pembahasan

dari data yang ada menunjukan bahwa tempat satu dengan tempat yang lain memiliki perbedaan koordinat Cara kerja sistem GPS pada dasarnya adalah menentukan jarak antara posisi satelit-satelit GPS pada orbitnya di angkasa luar ke alat penerima GPS. Dengan minimal 4 signal satelit yang diterima pada alat penerima GPS, maka alat penerima GPS dapat menghitung, dengan tingkat ketelitian tertentu, lokasi? alat penerima GPS tersebut di atas permukaan bumi. Pada saat ini j ada lebih dari 31 satelit dengan 24 satelit aktif GPS yang mengorbit di angkasa luar, tersebar di 6 bidang orbit.

Sinyal yang dipancarkan oleh satelit GPS memuat informasi waktu kapan signal itu dipancarkan dan juga informasi mengenai posisi satelit yang bersangkutan di angkasa luar. Satelit GPS dilengkapi dengan jam atom yang memiliki ketelitian sangat tinggi, sehingga data waktu yang terbungkus dalam sinyal GPS mempunyai tingkat ketepatan/akurasi yang tinggi.

\Tingkat ketelitian yang dibutuhkan dari alat GPS bergantung pada penggunaan alat GPS tersebut. Akurasi penentuan posisi alat GPS komersial saat ini yang hanya menggunakan informasi dari GPS (standalone GPS) adalah sekitar 100 meter, sedangkan bila menggunakan tambahan referensi informasi lain (differential GPS) yang standar maka tingkat akurasinya bisa antara 10 cm sampai 1m.

Kelemahan

Rata-rata format peta Indonesia biasanya memakai datum dari Jakarta (0 derajat). Kebanyakan alat GPS tidak punya format ini sehingga kita harus memakai Latitude & Longitude. Di negara lain bisa membaca GPS kita dan langsung bisa melihat posisi kita di peta.
Langit langsung – Alat GPS perlu melihat langsung satelit untuk menerima informasi. Oleh karena itu, kita tidak bisa memakai GPS dalam rumah, atau terlalu dekat gedung-gedung yg tinggi, atau dlm lembah, atau di bawah hutan lebat.
Bahasa - Dengan GPS Garmin Kita bisa memilih bahasa yang dipakai. Tetapi bahasa yang tersedia hanya bahasa-bahasa Eropa belum bahasa Indonesia atau Melayu.
Baterai – Jika baterai habis, tidak ada cadangan bantuan navigasi. Biasanya alat GPS memakai 4 baterai AA dan cepat habis kalau dipakai terus-menerus (10 - 36 jam, tergantung model).
Elektronik - Sama seperti alat elekronik lain yang bisa rusak jika jatuh atau terkena air.
Walaupun alat GPS bisa menghitung ketinggian, biasanya kesalahan cukup besar dan kurang cocok untuk membantu sebagai informasi navigasi di daerah pegunungan.


Kesimpulan

Dari pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa setiap tempat memiliki titik koordinat yang berbeda-beda hal itu sebabkan karena bentuk topografinya yang mempengaruhi. Dan dengan menggunakan GPS kita dengan mudah menentukan koordinat ataupun ketinggian tempat jadi kita tidak susah-susah mengukur ketinggian dari permukaan laut.

Global Positioning System adalah alat yang digunakan untuk mengetahui posisi seseorang pada satu saat. Yang ditransmisikan GPS bukan informasi posisi kita tetapi posisi satelit dan jarak penerima GPS kita dari satelit. Informasi ini diolah alat penerima GPS kita dan hasilnya ditampilkan kepada kita.
GPS memiliki banyak fungsi yang bermanfaat bagi kehidupan kita, seperti melihat lokasi di mana kita berada, menunjukkan arah untuk ke lokasi yang ingin kita tuju, sebagai kompas, menunjukkan peta lokasi suatu tempat berupa gambar jalan dan sungai.
GPS bekerja dengan cara tiap satelit mentransmisikan data navigasi dalam sinyal CDMA (Code Division Multiple Access)-sama seperti jenis sinyal untuk telepon seluler CDMA. Sinyal CDMA menggunakan kode pada transmisinya sehingga penerima GPS tetap bisa mengenali sinyal navigasi GPS walaupun ada gangguan pada frekuensi yang sama. Kode CDMA tiap satelit dipilih dengan saksama agar tidak mengganggu transmisi satelit lainnya.

DAFTAR PUSTAKA

http://artikelbiboer.blogspot.com/2009/11/sejarah-gps.html
http://cybertech.cbn.net.id/cbprtl/cybertech/detail.aspx?x=Hot+Topic&y=cybertech|0|0|2|46

http://dedi-gps-receiver.blogspot.com/
http://id.wikipedia.org/wiki/Global_Positioning_System
http://mustakimtelematika.wordpress.com/2009/03/26/1-gps-global-positioning-system/

Sune, Nawir. 2012. Modul Praktikum Kartografi: Prodi Geografi. Jurusan Fisika. Universitas Negeri  fkip universitas lampung.
Anonim. 2012. Mengenal Berbagai Jenis GPS. http:// kerockan. blogspot. com/ 2010/11/ mengenal-berbagai-jenis-gps.html. Diakses Tanggal 23 Nobember 2012.
Anonim. 2012. Jenis-jenis GPS. http://karpetbasah. blogspot. com/ 2009/10/jenis- jenis gps. html. Diakses Tanggal 23 November 2012.
Anonim. 2012. Fungsi dan Bagian-bagian GPS. http:// kilometer46. wordpress.com/2010/ 06/27/ fungsi–dan–bagian–bagian– gps – etrex-vista-hcx/. Diakses Tanggal 23 November 2012.











PRAKTIKUM 6 GPS


Oleh


DIMAS FERDINAN
1213034022










PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GEOGRAFI
JURUSAN PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS LAMPUNG
           2014